Malam itu tiba-tiba nafasku sesak teramat parah, aneh karena selama ini aku tak memiliki sakit asma. Leher terasa seperti dijerat tali dan serasa tidak ada lagi udara masuk ke rongga dada. Kejadian itu berulang di hari hari ke depan, bahkan semakin bertambah parah, bisa sampai lima kali serangan. Pengobatan medis Ɣªήğ dilakukan pun tak banyak menolong, beberapa dokter yang di datangi memberi analisa yang berbeda. Selama kurang lebih 6 bulan aku mengalami hal ini.
Untuk mendapat pengobatan lebih intensif, aku berobat ke salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Dan beberapa tes medis dilakukan, dan hasil laboratku menunjukkan kalau aku sehat-sehat aja. Hasil tes medis bagus tetapi aku tetap sakit … kontradiktif. Akupun tak sampai menginap di rumah sakit, dokter hanya memberikan obat untuk rawat jalan. Dan setelah meminum obat yang di sarankan, harapan sembuhpun datang. Sesak napas itu pergi dari tubuhku, aku merasa sembuh saat itu. Aku bisa main sepakbola lagi, dan bisa beraktifitas normal kembali. Dua minggu sekali aku kontrol ke Surabaya.
Tetapi setelah tiga bulan aku mengkonsumsi obat, aku mengalami panas tinggi disertai tubuh yang menggigil. Selama satu minggu aku mengalaminya, dan akhirnya aku pun kembali ke dokter di Surabaya. Dan saat menemui dokter, tiba-tiba dokter kelihatan panik serta menyuruhku untuk opname. Jelas ini mengagetkan, karena selain panas dan menggigil aku merasa baik-baik saja. Aku pun jalan sendiri masuk ke kamar rumah sakit.Opname tidak juga membuatku sembuh dari panas yang disertai menggigil, kulitku tiba-tiba juga mulai menghitam gosong dan sekujur tubuh ditumbuhi rambut tipis. Tubuh semakin mengecil, dan dua minggu aku diopname tubuhku lumpuh (tangan dan kaki tak dapat bergerak). Saat itu beberapa kali aku tak sadarkan diri, dan dokterpun tak memberi tahu apa yang sedang terjadi padaku. Hampir sebulan opname kondisiku semakin memburuk, dan dokterpun saat itu seperti putus asa dan akhirnya menyuruh keluarga untuk mencari pengobatan alternatif.
Karena dokter sudah membuka pembicaraan seperti itu, akhirnya aku dibawa pulang. Masuk rumah sakit masih bisa berjalan, pulang tubuh sudah lumpuh. Saat masuk rumah sakit berat badan 50 kg, keluar jadi tinggal 25 kg. Penderitaan belum berakhir, saat tiba di rumahpun panas yang disertai menggigilpun masih mendera, badanpun semakin gosong.
Sekarang giliran paranormal yang megobati, beberapa datang ke rumah karena diajak kolega keluarga yang bersimpati dengan kondisiku. Ah semua tidak membantu. Tak lama di rumah tepat saat hari ulang tahun ke 17, kondisiku memburuk dan akhirnya aku dilarikan ke rumah sakit setempat. Aku mengalami koma. Ternyata saat itu belum waktuku menghadap Sang Pencipta, aku kembali sadar. Dan dari dokter yang menangani aku tahu jika saat itu mengalami keracunan obat. Aku diduga terkena Steven Johnson Syndrome dan ada juga dokter yang bilang kalau aku terkena Guillain-Barre Syndrome. Kemungkinan karena obat antibiotik atau bisa juga dari obat anti alergi. Syndrom ini menyerang sistem imun dan system syaraf. Dokter mengatakan kalau penyembuhannya akan sangat lama.
Diantara putus asa dan rasa lelah menjalani sakit, aku membaca sebuah tulisan di koran tentang terapi urine dan terapi air. Dan aku berinisiatif melakukannya. Aku menambah porsi minumku, dan setiap kencing aku minum 1/3 gelas urine. Kulakukan setiap hari, walau di awal tidak tampak perkembangan apa-apa. Tetapi selama sebulan kulakukan, aku merasa tubuhku lebih kuat walau masih belum bisa jalan. Setelah kulakukan kurang lebih 3 bulan, tiba-tiba aku ingin jalan dan apa yang terjadi mengagetkanku … AKU BISA JALAN KEMBALI.
Walau masih tertatih saat itu, tapi aku merasa itulah awal hidupku kembali. Hari hari kedepan terapi itu masih kulakukan, dan perlahan kulit tubuhku yang gosong mulai bertahap cerah.Itu semua baru permulaan dari proses kesembuhanku. Dalam perjalanan menuju kesembuhan banyak hal yang kulakukan, aku selalu berani mencoba untuk segala sesuatu yang menurutku bisa membantu menuju kesembuhan. Obat medis, obat herbal, pijat, pengobatan dengan prana … Semua kulakukan, untuk mempercepat kesembuhanku. Tetapi dari semua yang kulakukan, aku tetap rutin melakukan terapi urin dan terapi air. Setelah memasuki tahun kelima setelah sakit, baru aku sadar bahwa aku telah berhasil mengalahkan penyakit Steven Johnson Syndrom. Aku merasa daya tahan tubuhku sudah mulai membaik dan syaraf-syarafku serta ototku sudah kembali pulih.
Sekarang setelah tujuh belas tahun yang lalu aku mengalami mimpi buruk itu, semuanya masih tak bisa terlupakan. Bayang-bayang kematian itu masih tertanam dalam pikiranku sampai sekarang. Tetapi aku bersyukur karena TUHAN memberiku kekuatan dalam menghadapi sakit yang hampir merenggut nyawaku. Juga sangat bersyukur diberi keluarga yang memiliki ketabahan dan kekuatan dalam merawat aku. Cobaan bisa datang sewaktu-waktu, tetapi kita harus percaya bahwa semua itu baik. TUHAN memiliki rencana yang luar biasa dibalik cobaan yang ada. Jangan menyerah, jangan mengeluh dan jangan menyalahkan TUHAN. Semoga kisah ini bisa menginspirasi teman-teman yang juga dalam masa-masa pencobaan.