Sore itu sesaat setelah isya’ seorang ibu tetangga sebelah rumah tiba-tiba datang. “Mas, bisa datang ke rumah sebentar saja, Niken asmanya kambuh”, kata ibu itu tergopoh-gopoh. Aku tentu saja terkejut karena waktu sore dia lewat depan rumah sempat tersenyum menyapaku, dan sepertinya dia sehat-sehat saja. Langsung saja aku berlari menuju rumahnya dan masuk ke kamarnya. Terlihat dia duduk membungkuk sambil berusaha menarik nafas dengan susah payah. Mukanya sudah pucat, tetapi kondisi masih sadar. Melihatku dia langsung tersenyum walaupun terlihat sangat memaksa.
Melihat kondisinya yang sudah sangat lemah saya langsung mengusulkan segera di bawa ke rumah sakit saja, ibunya pun menyetujuinya. Dan tanpa pikir panjang langsung menyuruh adik untuk menyiapkan mobil untuk membawa Niken ke rumah sakit. Sempat waktu itu Niken menolak untuk dibawa ke rumah sakit, mungkin karena tahu ibunya seorang janda dengan ekonomi yang pas-pasan. Tetapi situasi membuat semua bertindak dengan cepat, Niken pun dibopong ke mobil dan langsung menuju rumah sakit terdekat.
Sesampai di rumah sakit, dia langsung memperoleh penanganan intensif di UGD. Sesaat itu terlihat dia mulai tenang dan nafasnya mulai teratur. “Bu, anak ini keracunan. Habis makan apa tadi”, tanya dokter jaganya saat itu. “Habis sholat maghrib tadi dia makan tebalan (semacam kerang yang memiliki ekor)”,jawab ibunya. Dan dokterpun memberinya beberapa penanganan medis saat itu.
Kami semua saat itu agak tenang karena melihat kondisi Niken mulai membaik. Tetapi itu tidak lama, beberapa saat kemudian Niken kembali terlihat kesulitan bernafas lagi dan tiba tiba tubuhnya kejang. Suasana sangat mencekam dokter pun memasang selang oksigen, tetapi itu tidak banyak membantu. Dan beberapa saat setelah itu Niken mulai tidak sadarkan diri, paramedis juga terlihat sibuk memberi bantuan medis. “Mas ini oksigen sudah tidak bisa masuk ke paru-paru, infuspun juga tida bisa mengalir masuk”, kata dokternya.
Saat saya memegang kakinya yang semula dingin sekarang mulai terasa hangat, tetapi ada yang aneh kuku-kukunya semuanya membiru. Saat itu terlihat bola matanya mulai terbalik, tangannya sedikit tergenggam. Ibunya juga terlihat menangis sambil memanggil namanya berharap Niken bisa cepat tersadar. Saat itu tiba-tiba terlihat dokter menekan-nekan dada Niken, dan aku tersadar bahwa anak itu jantungnya sudah berhenti. Dan sesaat setelah itu dokternya menggelengkan kepala ke rekannya, dan sayapun langsung mengerti apabila Niken sudah tiada.
Setengah tidak percaya karena semua terjadi begitu cepat. Pagi hari saya masih sempat menyapanya saat berangkat ke sekolah SMK, pulangnya pun dia masih tersenyum saat lewat depan rumah. Sekarang dia sudah terbujur kaku dihadapanku,
“Sedulur, asalmu ora ono/Terus dadi ono/Saiki ora ono maneh/Yo wis, tak dongak-ke slamet.” (Saudara, asalmu tidak ada/Lalu menjadi ada/Sekarang tidak ada lagi/Ya sudah, saya doa kan selamat).
Posted in Asal Ngomong | 4 Comments »





