Meneropong Masa Depan Anas Urbaningrum

Januari 25th, 2012
Posted in Gelitik Politik  Tagged ,
No Comments »

Tanpa sengaja beberapa hari lalu saya melihat wajah Anas Urbaningrum di salah satu televisi swasta, ada sesuatu yang berbeda …. wajahnya terlihat asimetris. Seperti seseorang yang habis terkena Bells Palsy, yang membuat wajah mengalami mati rasa dan mulut serta mata mengalami gangguan seperti orang terkena stroke. Badannya terlihat lemah untuk seorang yang masih berusia 42 tahun dan yang telihat sangat enerjik beberapa bulan lalu.

Aura dirinya juga terlihat sangat redup, menurun drastis dengan saat dirinya bertarung di Munas Demokrat yang berlangsung di Bandung beberapa waktu lalu. Dia tampak seperti seseorang yang tak tahu harus berbuat apa … kesepian … merasa tak tahu lagi harus percaya dengan siapa … karena saat ini antara teman dan lawan begitu kabur dimatanya. Anas sedang mengalami downtrend sekarang.

Dengan aura seperti ini tak lama lagi Anas akan mengalami kehancuran baik itu dari segi fisik yang semakin menurun juga dari sisi karirnya. Dia akan dihabisi oleh teman-temannya sendiri, baik itu yang sudah bermasalah dengan hukum maupun yang masih makan semeja dengannya. Bahkan mungkin dia tidak akan sanggup menyelesaikan masa kerjanya di Demokrat.

Anas sedang gontai ……… dan segera jatuh.

Note : Tulisan ini hanya lanjutan dari kicauan saya di twitter @SayurAsem yang kutulis dengan hastag #Anu tanggal 22 Januari 2012.

Bertahan dan Mengalahkan Steven Johnson Syndrome

Juni 21st, 2011
Posted in Highway to Heaven
3 Comments »

Malam itu tiba-tiba nafasku sesak teramat parah, aneh karena selama ini aku tak memiliki sakit asma. Leher terasa seperti dijerat tali dan serasa tidak ada lagi udara masuk ke rongga dada. Kejadian itu berulang di hari hari ke depan, bahkan semakin bertambah parah, bisa sampai lima kali serangan. Pengobatan medis Ɣªήğ dilakukan pun tak banyak menolong, beberapa dokter yang di datangi memberi analisa yang berbeda. Selama kurang lebih 6 bulan aku mengalami hal ini.

Untuk mendapat pengobatan lebih intensif, aku berobat ke salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Dan beberapa tes medis dilakukan, dan hasil laboratku menunjukkan kalau aku sehat-sehat aja. Hasil tes medis bagus tetapi aku tetap sakit … kontradiktif. Akupun tak sampai menginap di rumah sakit, dokter hanya memberikan obat untuk rawat jalan. Dan setelah meminum obat yang di sarankan, harapan sembuhpun datang. Sesak napas itu pergi dari tubuhku, aku merasa sembuh saat itu. Aku bisa main sepakbola lagi, dan bisa beraktifitas normal kembali. Dua minggu sekali aku kontrol ke Surabaya.

Tetapi setelah tiga bulan aku mengkonsumsi obat, aku mengalami panas tinggi disertai tubuh yang menggigil. Selama satu minggu aku mengalaminya, dan akhirnya aku pun kembali ke dokter di Surabaya. Dan saat menemui dokter, tiba-tiba dokter kelihatan panik serta menyuruhku untuk opname. Jelas ini mengagetkan, karena selain panas dan menggigil aku merasa baik-baik saja. Aku pun jalan sendiri masuk ke kamar rumah sakit.Opname tidak juga membuatku sembuh dari panas yang disertai menggigil, kulitku tiba-tiba juga mulai menghitam gosong dan sekujur tubuh ditumbuhi rambut tipis. Tubuh semakin mengecil, dan dua minggu aku diopname tubuhku lumpuh (tangan dan kaki tak dapat bergerak). Saat itu beberapa kali aku tak sadarkan diri, dan dokterpun tak memberi tahu apa yang sedang terjadi padaku. Hampir sebulan opname kondisiku semakin memburuk, dan dokterpun saat itu seperti putus asa dan akhirnya menyuruh keluarga untuk mencari pengobatan alternatif.

Karena dokter sudah membuka pembicaraan seperti itu, akhirnya aku dibawa pulang. Masuk rumah sakit masih bisa berjalan, pulang tubuh sudah lumpuh. Saat masuk rumah sakit berat badan 50 kg, keluar jadi tinggal 25 kg. Penderitaan belum berakhir, saat tiba di rumahpun panas yang disertai menggigilpun masih mendera, badanpun semakin gosong.

Sekarang giliran paranormal yang megobati, beberapa datang ke rumah karena diajak kolega keluarga yang bersimpati dengan kondisiku. Ah semua tidak membantu. Tak lama di rumah tepat saat hari ulang tahun ke 17, kondisiku memburuk dan akhirnya aku dilarikan ke rumah sakit setempat. Aku mengalami koma. Ternyata saat itu belum waktuku menghadap Sang Pencipta, aku kembali sadar. Dan dari dokter yang menangani aku tahu jika saat itu mengalami keracunan obat. Aku diduga terkena Steven Johnson Syndrome dan ada juga dokter yang bilang kalau aku terkena Guillain-Barre Syndrome. Kemungkinan karena obat antibiotik atau bisa juga dari obat anti alergi. Syndrom ini menyerang sistem imun dan system syaraf. Dokter mengatakan kalau penyembuhannya akan sangat lama.

Diantara putus asa dan rasa lelah menjalani sakit, aku membaca sebuah tulisan di koran tentang terapi urine dan terapi air. Dan aku berinisiatif melakukannya. Aku menambah porsi minumku, dan setiap kencing aku minum 1/3 gelas urine. Kulakukan setiap hari, walau di awal tidak tampak perkembangan apa-apa. Tetapi selama sebulan kulakukan, aku merasa tubuhku lebih kuat walau masih belum bisa jalan. Setelah kulakukan kurang lebih 3 bulan, tiba-tiba aku ingin jalan dan apa yang terjadi mengagetkanku … AKU BISA JALAN KEMBALI.

Walau masih tertatih saat itu, tapi aku merasa itulah awal hidupku kembali. Hari hari kedepan terapi itu masih kulakukan, dan perlahan kulit tubuhku yang gosong mulai bertahap cerah.Itu semua baru permulaan dari proses kesembuhanku. Dalam perjalanan menuju kesembuhan banyak hal yang kulakukan, aku selalu berani mencoba untuk segala sesuatu yang menurutku bisa membantu menuju kesembuhan. Obat medis, obat herbal, pijat, pengobatan dengan prana … Semua kulakukan, untuk mempercepat kesembuhanku. Tetapi dari semua yang kulakukan, aku tetap rutin melakukan terapi urin dan terapi air. Setelah memasuki tahun kelima setelah sakit, baru aku sadar bahwa aku telah berhasil mengalahkan penyakit Steven Johnson Syndrom. Aku merasa daya tahan tubuhku sudah mulai membaik dan syaraf-syarafku serta ototku sudah kembali pulih.

Sekarang setelah tujuh belas tahun yang lalu aku mengalami mimpi buruk itu, semuanya masih tak bisa terlupakan. Bayang-bayang kematian itu masih tertanam dalam pikiranku sampai sekarang. Tetapi aku bersyukur karena TUHAN memberiku kekuatan dalam menghadapi sakit yang hampir merenggut nyawaku. Juga sangat bersyukur diberi keluarga yang memiliki ketabahan dan kekuatan dalam merawat aku. Cobaan bisa datang sewaktu-waktu, tetapi kita harus percaya bahwa semua itu baik. TUHAN memiliki rencana yang luar biasa dibalik cobaan yang ada. Jangan menyerah, jangan mengeluh dan jangan menyalahkan TUHAN. Semoga kisah ini bisa menginspirasi teman-teman yang juga dalam masa-masa pencobaan.

Bijak Memilihkan Pengajar Untuk Si Kecil

Januari 4th, 2011
Posted in Asal Ngomong
2 Comments »

Di awal tahun baru teringat akan proses penciptaan wanita bernama Hawa. Kitab Suci menulis Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, dan guru agamaku saat kecil dulu bilang bahwa jumlah tulang rusuk pria lebih banyak dari wanita. Dan akupun mempercayai ocehan guru agamaku, demikian pula teman2ku. Sampai berusia dewasa masih tetap tertanam dipikiranku bila jumlah tulang rusuk pria lebih banyak dari wanita. Sampai akhirnya ada seorang dokter yang memberi penjelasan secara ilmiah, jika tidak ada perbedaan jumlah tulang rusuk antara laki-laki dan perempuan.

Kemudian guru agamaku bercerita juga kalau Adam dan Hawa itu itu dulunya tinggal di surga, tetapi karena terbujuk rayuan si ular (katanya jelmaan setan) untuk memakan buah terlarang maka Adam dan Hawa dibuang ke bumi. Dan guru agamaku menambahkan, kita jangan pernah memelihara dan memakai pakaian dan hiasan berbentuk ular, karena ular itu jelmaan setan. Sampai aku remaja, ocehan tentang ular adalah jelmaan setan tetap melekat. Sampai kemudian aku berpikir bahwa ternyata ular tidak pernah mengajarkan kejahatan kepadaku. Kenyataan setan yang memiliki rambutlah yang menyebarkan kejahatan dan dosa, bukan ular !!!

Berhati-hatilah kita dalam mendidik anak,terutama di bidang agama. Karena pola pikir yang tertanam sejak kecil sangat mempengaruhi cara pandang di saat dewasa. Cara pandang “perbedaan jumlah tulang rusuk” ini hanya sedikit contoh dari pengajar2 agama yang menyesatkan anak2 kecil. Seringkali juga kebencian terhadap perbedaan agama maupun warna kulit tertanam juga disaat kita kecil. Beberapa disebabkan karena penyesatan oleh guru-guru agama kita yang berpola pikir sempit. Sekali lagi berhati - hatilah dalam memilihkan guru agama buat anak-anak kita. Semoga ocehan ini membawa manfaat bagi yang membaca.

Toleransi Yang Indah

September 1st, 2010
Posted in Asal Ngomong
No Comments »

Pertengahan bulan puasa tahun lalu, siang hari aku ditelpon KH Munip As’ad (seorang kiai sepuh di Genggong, Probolinggo) untuk datang ke pondok pesantrennya. Kurang lebih jam 1 siang pun aku tiba di rumah beliau dan langsung menemuinya di ruang pribadinya. Setelah itu kami berbincang-bincang hangat selama kurang lebih 1 1/2 jam. Setelah merasa sudah cukup apa yang kita perbincangkan, akupun segera mohon pamit pulang.

Tetapi alangkah terkejutnya saat aku pamit kiai melarangku pulang terlebih dulu. “Ayo pak Wishnu makan dulu, sudah disiapkan sama bu Nyai”, kata pak Kiai. “Maaf pak, tidak usah repot-repot saya langsung pulang saja”, jawabku menolak dengan halus karena aku tahu ini kan bulan puasa. Mengetahui kegelisahanku pak Kiai langsung mendekatiku, sambil menggiringku ke ruang makan. “Pak Wishnu tidak usah kuatir, memang disini kami semua berpuasa. Tapi kami juga sangat menghormati sahabat-sahabat yang tidak berpuasa”, ujar pak Kiai yang sepertinya tahu kegelisahanku. Ternyata di ruang makan bu Nyai dan seorang anak laki-lakinya, langsung mempersilahkan aku untuk menikmati hidangannya. “Gus, temani pak Wishnu makan ya”, kata Kiai ke anaknya. Dan akhirnya aku pun makan ditemani dan berbincang penuh tawa dengan anak kiai yang tidak menyertaiku makan karena sedang berpuasa. Tidak cukup sampai disitu, mengetahuiku hanya makan sedikit, anak Kiai itu langsung menambahkan nasi dan lauknya langsung ke piringku.

Luar biasa, pengalaman dan yang sangat menarik, menikmati sejuknya bulan puasa di pondok pesantren. Karena disitu ada BELIAU dan SAHABAT yang sangat KUHORMATI dan ternyata merekapun MENGHORMATI ku.

Mengantar ke Ujung Kehidupan

Agustus 17th, 2009
Posted in Asal Ngomong
4 Comments »

Sore itu sesaat setelah isya’ seorang ibu tetangga sebelah rumah tiba-tiba datang. “Mas, bisa datang ke rumah sebentar saja, Niken asmanya kambuh”, kata ibu itu tergopoh-gopoh. Aku tentu saja terkejut karena waktu sore dia lewat depan rumah sempat tersenyum menyapaku, dan sepertinya dia sehat-sehat saja. Langsung saja aku berlari menuju rumahnya dan masuk ke kamarnya. Terlihat dia duduk membungkuk sambil berusaha menarik nafas dengan susah payah. Mukanya sudah pucat, tetapi kondisi masih sadar. Melihatku dia langsung tersenyum walaupun terlihat sangat memaksa.

Melihat kondisinya yang sudah sangat lemah saya langsung mengusulkan segera di bawa ke rumah sakit saja, ibunya pun menyetujuinya. Dan tanpa pikir panjang langsung menyuruh adik untuk menyiapkan mobil untuk membawa Niken ke rumah sakit. Sempat waktu itu Niken menolak untuk dibawa ke rumah sakit, mungkin karena tahu ibunya seorang janda dengan ekonomi yang pas-pasan. Tetapi situasi membuat semua bertindak dengan cepat, Niken pun dibopong ke mobil dan langsung menuju rumah sakit terdekat.

Sesampai di rumah sakit, dia langsung memperoleh penanganan intensif di UGD. Sesaat itu terlihat dia mulai tenang dan nafasnya mulai teratur. “Bu, anak ini keracunan. Habis makan apa tadi”, tanya dokter jaganya saat itu. “Habis sholat maghrib tadi dia makan tebalan (semacam kerang yang memiliki ekor)”,jawab ibunya. Dan dokterpun memberinya beberapa penanganan medis saat itu.

Kami semua saat itu agak tenang karena melihat kondisi Niken mulai membaik. Tetapi itu tidak lama, beberapa saat kemudian Niken kembali terlihat kesulitan bernafas lagi dan tiba tiba tubuhnya kejang. Suasana sangat mencekam dokter pun memasang selang oksigen, tetapi itu tidak banyak membantu. Dan beberapa saat setelah itu Niken mulai tidak sadarkan diri, paramedis juga terlihat sibuk memberi bantuan medis. “Mas ini oksigen sudah tidak bisa masuk ke paru-paru, infuspun juga tida bisa mengalir masuk”, kata dokternya.

Saat saya memegang kakinya yang semula dingin sekarang mulai terasa hangat, tetapi ada yang aneh kuku-kukunya semuanya membiru. Saat itu terlihat bola matanya mulai terbalik, tangannya sedikit tergenggam. Ibunya juga terlihat menangis sambil memanggil namanya berharap Niken bisa cepat tersadar. Saat itu tiba-tiba terlihat dokter menekan-nekan dada Niken, dan aku tersadar bahwa anak itu jantungnya sudah berhenti. Dan sesaat setelah itu dokternya menggelengkan kepala ke rekannya, dan sayapun langsung mengerti apabila Niken sudah tiada.

Setengah tidak percaya karena semua terjadi begitu cepat. Pagi hari saya masih sempat menyapanya saat berangkat ke sekolah SMK, pulangnya pun dia masih tersenyum saat lewat depan rumah. Sekarang dia sudah terbujur kaku dihadapanku,

“Sedulur, asalmu ora ono/Terus dadi ono/Saiki ora ono maneh/Yo wis, tak dongak-ke slamet.” (Saudara, asalmu tidak ada/Lalu menjadi ada/Sekarang tidak ada lagi/Ya sudah, saya doa kan selamat).

SAYA INGIN KEMBALI MENULIS…

Juli 6th, 2009
Posted in Asal Ngomong
5 Comments »

null

Satu bulan lebih saya kehilangan mood untuk menulis. Beberapa comment spam yang meneror dan beberapa mengancam saya di blog serta email ini membuat saya kehilangan gairah untuk menulis. Tulisan yang bermula dari pemikiran bebas yang terkadang mendatangkan beberapa pertanyaan usil yang saya pun berusaha untuk menjauh dari konteks SARA, tak lepas dari komentar hujatan di blog saya dan hujan teror di email saya.

Saya tahu bahwa ancaman itu mungkin hanya sebatas terror tulisan , tapi terkadang hal membuat saya merasa tidak nyaman lagi dalam menulis. Menulis terkadang hanyalah suatu curahan hati dalam melihat kejadian di sekitar kita dan itu tidak jarang mendatangkan pemikiran-pemikiran yang terlontar begitu saja. Tetapi ketika tulisan itu mendatangkan ketidaknyamanan, saya pun merasa buat apa menulis di blog ???

Tetapi hari ini saya ingin memulai kembali menulis ……

Hidup Terkadang Tidak Adil

Mei 20th, 2009
Posted in Asal Ngomong
55 Comments »

null

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi seorang di rumah sakit. Zul begitu biasanya dia di panggil, Dia masuk rumah sakit karena menderita sakit paru-paru akut, yang sudah dia derita sejak lima tahun terakhir.  Saat kujenguk dia berada di ruang kelas III, seruangan dengan 9 orang yang sakit mirip dia. Ruangan sempit yang dipenuhi dengan orang batuk silih berganti, muntah, erangan, teriakan, tangisan, dan berbagai macam ekspresi menyayat  hati lainnya.

 

Saat tiba disana saya melihat suaminya duduk disampingnya, tampak lelah dan pucat. Dia bilang sudah 21 hari istrinya masuk rumah sakit dan perkembangan masih buruk. Dia juga sempat mengeluarkan keluh kesahnya kepada saya dan saat mendengarnya saya merasa bahwa terkadang hidup ini memang tidak adil.

 

Zul ini ternyata seorang yatim sejak kecil, karena ayahnya meninggalkan keluarganya tanpa pamit. Meninggalkan Zul dan ibunya tanpa harta benda yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Akhirnya ibu Zul bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan yang sangat kecil. Tetapi itu tidak berlangsung lama, selulus SD ibunda Zul meninggal. Tinggallah Zul sendiri hidup menumpang di kediaman saudaranya yang juga kondisi ekonominya pas-pasan, sambil menjadi buruh tani dengan upah Rp 12.500 setiap ada pekerjaan, Klo tidak ada ya dia harus mencari sayur kangkung di bantaran sungai sebagai lauk untuk makan.

 

Saat ini Zul sudah menikah dan suaminya juga seorang buruh tani dengan pendapatan yang tidak jauh dari dia, dan tetap mereka tinggal di rumah saudaranya tersebut. Setelah memiliki seorang anak Zul divonis menderita sakit paru-paru akut dan harus keluar masuk rumah sakit. Beruntung  Zul masih beroleh fasilitas pengobatan gratis, tetapi ini tidaklah cukup. Di rumah sakit memang digratiskan tetapi bagaimana perawatan dirumah ? Tidak ada makanan bergizi dan untuk mendapatkan obat gratis dia harus mengeluarkan uang extra karena rumah sakit rujukannya cukup jauh.

 

Sekarang dia masuk rumah sakit lagi dan setiap hari dia duduk termenung menahan sakit sambil bergumam, ”kenapa hidup ini tidak adil untukku” ?

 

Saya hanya bisa diam mendengar cerita suaminya, tidak tahu harus berkata apa-apa. Entah seandainya Mario Teguh bertemu dengan Zul apa dia masih bisa mengeluarka Salam Supernya ? Saat itu saya cuma bisa berdoa, berharap Tuhan mendengar keluh-kesah Zul dan memberi jalan terbaik untuk hidupnya.

 

Tuhan Maha Adil dan apakah Zul harus menderita dalam Keadilan Tuhan ? Tuhan tahu yang terbaik untuk Zul, semoga hidup Zul segera berubah ….